“Hey, are you guys serious?” Aida berharap ada yang berteriak “April Mop!” atau semacamnya. Yang ada malah petir menyambar lagi dan berikutnya terdengar suara air hujan deras yang menambah suasana dramatis. ^^;
“Geez, jangan ampe deh,” celetuk seseorang. Aida tidak memperhatikan siapa. “Dasar bego. Mana mungkin gue setuju begitu aja Myra mau dijodohin sama si dingin ini.”
Bara yang ngomong. Bara? Bara atau Rio? Bodo amat. Aida tidak melihat wajahnya. Ruangan itu rasanya jadi makin kabur. Si kembar Ella-Elle yang biasanya terlihat identik saja terlihat berbeda. Pokoknya suaranya mirip. Yang jelas dia sangat berterimakasih pada orang itu. Terima kasih Tuhan, masih ada keluarga hamba yang waras...
“Maksudnya?”
“Lo tau dari mana sih kalau tunangan Myra itu Rio yang ini? Sok tahu aja,” kata Bara (kali ini dia yakin itu Bara).
“Hold it. Gue engga tahu mereka tahu darimana, tapi yang jelas di sini ada salah paham. Mungkin aja mereka semua cuma tahu sedikit dan udah berprasangka yang engga-engga. Your fiancé was called Rio. On that time, there were a bunch of jerks who share the same nickname. The problem is, I think they don’t know which,” jelas Bara lembut pada Aida yang kelihatannya makin pucat, “Mungkin mereka denger gosip entah darimana tentang si Rio satu ini dan menganggap Rio yang kita omongin sekarang ini adalah sepupu kita tersayang, Adrian.”
“Jadi maksud lo gue beneran punya seseorang yang udah lama dijodohin sama gue bernama Rio?”
Bara mengangguk. “Masalahnya, darimana elo semua tau? Gue kira tadi lo beneran tahu Rio yang mana, ternyata cuma salah paham. Jadi cuma gue nih yang tahu masalahnya di sini?” dia menatap Luci dan Ella. Rupanya mereka tak sengaja mencuri dengar percakapan Bara dengan seseorang di telepon beberapa waktu yang lalu. Mereka lalu asal saja menafsirkan ‘Rio’ tersebut sebagai Adrian, sepupu mereka yang kebetulan juga dekat dengan Aida.
Gosh... That really did scare the hell outta me. Maksudku, Rio (Adrian)? Geez... Tampang okay, sifat no way! (lupa dari iklan mana...) Jadi ini beneran boongan, kan? Yokatta... Kelihatannya Luci dan Ella tampak agak sedikit bingung dan saling berpandangan. Mereka tampak malu.
“Jadi, dia siapa? Apa kita tahu siapa Rio ini?” tanya Elle yang ternyata sama tidak tahunya dengan Aida. Bukan hal yang aneh secara dia emang engga hobi bersosialisasi.
Guntur berdeham. Dia melemparkan pandangan we’re-not-here-to-discuss-this. Yak, pada akhirnya satu-satunya orang yang bisa menenangkan mereka tanpa ngomong sedikitpun cuma “Almighty” Guntur...
“Kembali ke masalah,” lanjut Bara, “kakek mau kamu pindah sekolah ke Majorie Palace High School di New Zealand. Tahu, kan? Sekolah punyanya kakek.”
“And why should I?”
Bara mengangkat bahu. “Mungkin kamu bisa ketemu si misterius Arvi buat ngomongin Copa Shallow. Ga tau deh. Gue cuma disuruh ngomongin ini sama lo doang. Lebih bagus lo nanya ke orangnya sendiri.”
Luci mencibir. “Kakek? Terakhir kali gue ketemu dia aja pas tahun baruan.”
“Pake teknologi dong, tante... Lo pikir sekarang masih jamannya surat merpati pos? Ya telpon dia aja. Kok repot,” kata Bara. Dia mengulurkan handphone-nya pada Aida. “Ra, gue kan juga punya hape, pake hape gue aja. Ntar pulsa lo abis,” kata Aida.
Bara tertawa. “Dasar anak asrama,” katanya. Dia menekan sederet nomor di handphonenya, bicara dengan operator dan bicara singkat pada kakek Cortez dalam bahasa asing yang tidak ia mengerti. Ketika dia mengulurkan handphone-nya lagi pada Aida, barulah ia mengerti. 3 G... Pantesan.
“Hello, Myra,” kata suara yang dingin itu. Sosok tegas kakeknya membuat Aida segan.
“Kakek Cortez, aku—“
Kakek tertawa. Tawanya dingin, seperti biasa. Sedingin Igor Karkaroff. “Jadi, apa yang ingin kautanyakan?”
Aida mengankat alis. “Aku tidak ingin bertanya. Aku ingin penjelasan. Apa-apaan ini, Kek? Kenapa aku tiba-tiba disuruh pindah sekolah sementara Alef sakit? Terus masalah anak keluarga Zarlene itu juga... Tidak bisakah menunggu sampai Alef sembuh?”
“Apa yang menyangkut anak itu tidak berarti menyangkut keluarga kita juga,” jawabnya dingin. Aida terkejut. Walaupun ia tahu kakeknya tidak pernah menyukai Alef, tapi dia tidak menyangka dia sampai segitunya membenci Alef.
Kakeknya lalu berkata, “Besok siang kau berangkat dengan Adrian kemari. Aku sengaja mengatur agar hari kepindahanmu bertepatan dengan perjalanan bisnis Adrian agar kamu punya teman. Ingat, penerbangan pukul sebelas tepat.”
“Hah?” mulut Aida terbuka begitu lebar. “Kakek tidak serius memindahkan aku ke sana, kan? Untuk apa?”
“Jangan bertanya. Ikuti kakek saja. Kakek tahu kamu mau pindah ke apartemen anak itu sebentar lagi. Jangan harap kamu bisa tinggal di Jakarta. Kalu mau pindah, untuk apa ke Jakarta segala? Sekalian saja ke Majorie Palace. Kalau kakek bilang kamu pindah, ya pindah. Kakek sudah pesankan tiket yang pesawat yang jam keberangkatannya sama dengan Adrian. Kamu besok ikut Adrian kemari.”
Engga adil! “Tapi kek—“
“Myra,” deham kakek Cortez, “kakek bilang, pindah.”
Sebenarnya di dalam hatinya Aida ingin berkata “Persetan,” tapi entah kenapa yang keluar malah, “Iya, kek.”
“Bagus,” jawab kakeknya dingin.
Sambungan itu terputus. Semua orang di ruangan itu menghela nafas. Guntur menghenyakkan diri ke kursinya sampai-sampai kepalanya nyaris sejajar dengan lutut. “Dia selalu keras kepala. Dan elo mesti selalu nurut.”
Aida merasa agak tersindir. “Punya ide yang lebih bagus?”
Mereka menggelengkan kepala, tampak putus asa.
