kuRo neKo

a compLicated series hidden within my wildest imagination. i don't know why i wrote this... that's why i called it life. a life of a cat that i don't understand..^^ btw, baca dri bwh ke atas ya...

Saturday, November 18, 2006

Back To Alef’s apartment...

Hey, are you guys serious?” Aida berharap ada yang berteriak “April Mop!” atau semacamnya. Yang ada malah petir menyambar lagi dan berikutnya terdengar suara air hujan deras yang menambah suasana dramatis. ^^;
Hening sesaat.
“Geez, jangan ampe deh,” celetuk seseorang. Aida tidak memperhatikan siapa. “Dasar bego. Mana mungkin gue setuju begitu aja Myra mau dijodohin sama si dingin ini.”
Bara yang ngomong. Bara? Bara atau Rio? Bodo amat. Aida tidak melihat wajahnya. Ruangan itu rasanya jadi makin kabur. Si kembar Ella-Elle yang biasanya terlihat identik saja terlihat berbeda. Pokoknya suaranya mirip. Yang jelas dia sangat berterimakasih pada orang itu. Terima kasih Tuhan, masih ada keluarga hamba yang waras...
“Maksudnya?”
“Lo tau dari mana sih kalau tunangan Myra itu Rio yang ini? Sok tahu aja,” kata Bara (kali ini dia yakin itu Bara).
“Maksud lo Rio yang—“
“Hold it. Gue engga tahu mereka tahu darimana, tapi yang jelas di sini ada salah paham. Mungkin aja mereka semua cuma tahu sedikit dan udah berprasangka yang engga-engga. Your fiancé was called Rio. On that time, there were a bunch of jerks who share the same nickname. The problem is, I think they don’t know which,” jelas Bara lembut pada Aida yang kelihatannya makin pucat, “Mungkin mereka denger gosip entah darimana tentang si Rio satu ini dan menganggap Rio yang kita omongin sekarang ini adalah sepupu kita tersayang, Adrian.”
“Jadi maksud lo gue beneran punya seseorang yang udah lama dijodohin sama gue bernama Rio?”
Bara mengangguk. “Masalahnya, darimana elo semua tau? Gue kira tadi lo beneran tahu Rio yang mana, ternyata cuma salah paham. Jadi cuma gue nih yang tahu masalahnya di sini?” dia menatap Luci dan Ella. Rupanya mereka tak sengaja mencuri dengar percakapan Bara dengan seseorang di telepon beberapa waktu yang lalu. Mereka lalu asal saja menafsirkan ‘Rio’ tersebut sebagai Adrian, sepupu mereka yang kebetulan juga dekat dengan Aida.
Gosh... That really did scare the hell outta me. Maksudku, Rio (Adrian)? Geez... Tampang okay, sifat no way! (lupa dari iklan mana...) Jadi ini beneran boongan, kan? Yokatta... Kelihatannya Luci dan Ella tampak agak sedikit bingung dan saling berpandangan. Mereka tampak malu.
“Jadi, dia siapa? Apa kita tahu siapa Rio ini?” tanya Elle yang ternyata sama tidak tahunya dengan Aida. Bukan hal yang aneh secara dia emang engga hobi bersosialisasi.
Guntur berdeham. Dia melemparkan pandangan we’re-not-here-to-discuss-this. Yak, pada akhirnya satu-satunya orang yang bisa menenangkan mereka tanpa ngomong sedikitpun cuma “Almighty” Guntur...
“Kembali ke masalah,” lanjut Bara, “kakek mau kamu pindah sekolah ke Majorie Palace High School di New Zealand. Tahu, kan? Sekolah punyanya kakek.”
And why should I?”
Bara mengangkat bahu. “Mungkin kamu bisa ketemu si misterius Arvi buat ngomongin Copa Shallow. Ga tau deh. Gue cuma disuruh ngomongin ini sama lo doang. Lebih bagus lo nanya ke orangnya sendiri.”
Luci mencibir. “Kakek? Terakhir kali gue ketemu dia aja pas tahun baruan.”
“Pake teknologi dong, tante... Lo pikir sekarang masih jamannya surat merpati pos? Ya telpon dia aja. Kok repot,” kata Bara. Dia mengulurkan handphone-nya pada Aida. “Ra, gue kan juga punya hape, pake hape gue aja. Ntar pulsa lo abis,” kata Aida.
Bara tertawa. “Dasar anak asrama,” katanya. Dia menekan sederet nomor di handphonenya, bicara dengan operator dan bicara singkat pada kakek Cortez dalam bahasa asing yang tidak ia mengerti. Ketika dia mengulurkan handphone-nya lagi pada Aida, barulah ia mengerti. 3 G... Pantesan.
“Hello, Myra,” kata suara yang dingin itu. Sosok tegas kakeknya membuat Aida segan.
“Kakek Cortez, aku—“
Kakek tertawa. Tawanya dingin, seperti biasa. Sedingin Igor Karkaroff. “Jadi, apa yang ingin kautanyakan?”
Aida mengankat alis. “Aku tidak ingin bertanya. Aku ingin penjelasan. Apa-apaan ini, Kek? Kenapa aku tiba-tiba disuruh pindah sekolah sementara Alef sakit? Terus masalah anak keluarga Zarlene itu juga... Tidak bisakah menunggu sampai Alef sembuh?”
“Apa yang menyangkut anak itu tidak berarti menyangkut keluarga kita juga,” jawabnya dingin. Aida terkejut. Walaupun ia tahu kakeknya tidak pernah menyukai Alef, tapi dia tidak menyangka dia sampai segitunya membenci Alef.
Kakeknya lalu berkata, “Besok siang kau berangkat dengan Adrian kemari. Aku sengaja mengatur agar hari kepindahanmu bertepatan dengan perjalanan bisnis Adrian agar kamu punya teman. Ingat, penerbangan pukul sebelas tepat.”
“Hah?” mulut Aida terbuka begitu lebar. “Kakek tidak serius memindahkan aku ke sana, kan? Untuk apa?”
“Jangan bertanya. Ikuti kakek saja. Kakek tahu kamu mau pindah ke apartemen anak itu sebentar lagi. Jangan harap kamu bisa tinggal di Jakarta. Kalu mau pindah, untuk apa ke Jakarta segala? Sekalian saja ke Majorie Palace. Kalau kakek bilang kamu pindah, ya pindah. Kakek sudah pesankan tiket yang pesawat yang jam keberangkatannya sama dengan Adrian. Kamu besok ikut Adrian kemari.”
Engga adil! “Tapi kek—“
“Myra,” deham kakek Cortez, “kakek bilang, pindah.”
Sebenarnya di dalam hatinya Aida ingin berkata “Persetan,” tapi entah kenapa yang keluar malah, “Iya, kek.”
“Bagus,” jawab kakeknya dingin.
Sambungan itu terputus. Semua orang di ruangan itu menghela nafas. Guntur menghenyakkan diri ke kursinya sampai-sampai kepalanya nyaris sejajar dengan lutut. “Dia selalu keras kepala. Dan elo mesti selalu nurut.”
Aida merasa agak tersindir. “Punya ide yang lebih bagus?”
Mereka menggelengkan kepala, tampak putus asa.

Meanwhile, bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta...

“Whoa, kenapa muka lo?”
Fauzan tercengang melihat sobatnya, Arjuna, datang tergopoh-gopoh dengan bibir bengkak. Dia sampai lupa dengan sumpah serapahnya tadi yang berjanji akan menghardik sobatnya itu sampai mati kalau sampai dia terlambat naik pesawat. Wajar aja, soalnya ini anak engga muncul-muncul sampai sekarang, tepatnya lima belas menit sebelum lepas landas!
“Jangan ngomong,” geram Arjuna ketus. Lho, kok jadi dia yang sewot? Tiba-tiba Fauzan mengerti alasannya Dia lalu berbisik sambil menahan senyum, “Lo berantem sama cewek ya?”
Arjuna memandangnya heran. “Kok lo tau?”
“Ya iyalah gue tau. Lo pikir sejak kapan gue kenal elo? Gokil. Baru seminggu putus dari Chelsea udah ada yang baru. Enak banget ya jadi elu.”
“Siapa bilang cewek gue. Sekarang ini gue lagi males pacaran. Tadi gue ditonjok mbak-mbak di pinggir jalan, disangka copet. Hape gue dilindes truk, baju gue ancur, mobil gue dibaret orang, plus gue hampir telat gara-gara dikerubutin orang minta tanda tangan.”
Fauzan ngakak.
Arjuna mencibir. Tau bakalan diketawain gini, ngapain gue cerita... “Tapi gue jadi ketemu Nadishiella Cardier,” kata Arjuna.
Fauzan berhenti tertawa. “Tunangan Rio? Cewek itu si Nadi... siapa namanya?”
“Nadishiella. Gue juga kaget waktu tahu. Gue kira dia tipikal cewek-ceweknya Rio, ternyata jauh banget. Ternyata dia bener-bener galak dan gampang emosian. Udah gitu, tenaganya itu kuat banget. Liat aja nih muka gue bonyok begini,” gerutu Arjuna.
“Cantik engga?”
Arjuna memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak mendengarkan. Matanya menatap baling-baling pesawat yang barusan take-off yang terlihat dari jendela namun pikirannya tertuju kemana-mana. Tampaknya dia merasa telinganya memerah. Untungnya Fauzan tidak sadar.
“Standarlah,” kata Arjuna bohong. Padahal tadi dia sendiri sampai hampir engga bisa marah ngeliat cewek itu saking cantiknya. Lebih cantik daripada foto-fotonya di majalah. Awalnya dia pikir semua orang di keluarga Cardier dingin dan mengerikan, sama persis kayak kakek tua waktu itu. Ternyata nggak juga tuh. Emang sih, kelihatannya cewek itu ngga begitu ramah dan seperti semua Cardier yang ditemuinya (walaupun selama ini dia cuma pernah ketemu satu, yakni kakek-kakek itu), tapi cewek itu ngga separah itu kok. Setahu Arjuna, belum pernah ada Cardier yang naik metromini dan menonjok jambret di pinggir jalan, tuh.
“Masa, sih?” tanggap Fauzan tidak percaya. “Orang selalu bilang dia bener-bener cantik, kok. Elo mungkin engga sadar kali. Wajar sih, secara pertemuan lo ama dia kayak gitu,” Fauzan tertawa lagi, “tapi dia udah punya tunangan lho. Jadi jangan macem-macem. Ah, enak banget tuh si Rio. Cewek tajir begitu...”
Arjuna mengangkat alis. “Engga ada yang bilang gue tertarik tuh.” Lagi-lagi dia bohong.
“Oh, ya? Terus kenapa lo tertarik banget sama Nadi—whatever ini?” Fauzan menggodanya semakin gencar. Dia cuma tertarik dengan Nadishiella ini cuma karena dia tunangan sobatnya, kan? Cuma sebatas itu, kan? Pikiran-pikiran ini terus berkelebat di dalam Arjuna. Kata-kata Fauzan mengganggunya.
“Shut up and sit still.”
Arvi kembali mengingat-ingat sebuah rumah yang pernah dikunjunginya beberapa tahun yang lalu. Kelebatan bayangan seorang gadis kecil manis yang bermain piano. Sebuah pintu kamar bertuliskan “nadishiella”...
Lamunannya dibuyarkan pengumuman yang memberitahukan agar seluruh penumpang menaiki pesawat.
“Cepetan,” kata Fauzan, “bengong mulu.”
“Iye, sabar.”

Saturday, October 21, 2006

Part Three!
An Unbelievable Truth

Apartemen Alef..
Tadaima,” kata Aida lemas. Di luar sangat panas dan capeknya benar-benar terasa. Dia mengingat-ingat kejadian tadi siang yang benar-benar mengerikan. Nasibnya sekarang ini udah bukan malang lagi, naas! Sehari udah nguras tabungan banyak banget, gara-gara cowok artis tadi.
Okaerinasai,” jawab seseorang, yang membuat Aida kaget. Seharusnya kan engga ada orang di sini! Aida melihat rak sepatu. Ada banyak sepatu orang lain. Apa-apaan nih?
“Rio! Kok bisa-bisanya lo cepet sampai sini? Tadi kan lo masih di rumah sakit! Terus kok ada banyak orang di sini?” sembur Aida.
“Weits, nanya satu-satu, Mbak. Lo lama sih, terang aja gue nyampe sini duluan. Cepetan masuk, si Darius udah ngomel. Gue juga engga ngerti ada apaan, tapi si Bara ngumpulin kita buat ngomongin sesuatu.”
Bara? Sepupu dingin nan galak Aida yang itu? Biasanya kan dia jarang ngomong dan sekalinya pengen ngomongin sesuatu pasti serius banget. Perasaannya engga enak nih.
Aida melepas sepatunya buru-buru dan mengikuti Rio ke ruang tengah. Suasana yang tadinya hangat oleh canda tawa sepupunya tiba-tiba menjadi dingin. Jadi ingat Nodame... Spring-nya Beethoven jadi musim dingin bersalju (lho?).
Aida memperhatikan ruangan itu. Luci, Rio, Darius, Bara, Guntur, dan si kembar Ella-Elle. Tidak ada Lea, batinnya kecewa.
Luci menepuk-nepuk sebuah sofa di samping sofa yang sekarang didudukinya (dengan senyum yang langka 8O secara dia biasanya dingin banget) dan berkata, “Duduk di sini, Aida.” Aida duduk saja menuruti perintahnya. Dia lalu bertukar pandangan aku-tidak-mengerti dengan Elle yang duduk di sofa panjang di hadapannya. Tiba-tiba saja Aida merasa sangat bersyukur dia datang terakhir karena dia tidak harus duduk di sofa panjang itu. Bayangin aja, duduk dempet-dempetan sama Rio dan Guntur yang badannya segede apaan tahu disitu... Amit-amit dah.
Where were you?” desis Darius dari sudut mulutnya pada Aida. Tentu saja dia tidak berani mengomeli Aida saat ada kakek di situ, jadi Aida memilih untuk pura-pura tidak melihatnya. Wah, kalo ini cerita komik, ibaratnya Darius sudah seperti kompor gas yang mau meledak dicuekin begitu.
“Nah, ada apa?”
“Masalah Copa Shallow,” ucap Bara, “Kakek Cortez waktu itu bilang mau dikasih ke kakak beradik Zarlene.” Pupil mata Luci dan Ella melebar sampai-sampai kelihatannya bola mata mereka seperti mau copot saja. Sedangkan Elle dan Darius yang sedang asyik bermain gembel dari jauh tiba-tiba berhenti dan ikut mendengarkan. Sepupu Aida yang lain mengeluarkan reaksi berbeda-beda, dan seperti biasa, Guntur dan Rio cuek seolah tak ada apapun yang terjadi.
Copa Shallow adalah rumah keluarga besar (benar-benar besaar... Liat aja, cucu-cucu kakek ngumpul di apartemen Alef aja udah penuh sesak begini, padahal engga sampai setengah jumlah aslinya. Gimana kalo semuanya ngumpul?) Cardier di Bandung. Awalnya itu milik nenek Aida yang berdarah orang asli Indonesia dan tentu saja sekarang rumah itu juga jadi milik kakek. Aida benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kakek. Bukannya baru sebulan yang lalu kakek ngebuat Alef uring-uringan gara-gara duit buat biaya renovasi rumah itu mencekek leher dan sekarang dia mau ngasih rumah itu ke orang lain?
“Tunggu, lo ngumpulin kita semua cuma untuk ngomongin masalah warisan? Alef kan lagi sakit, Ra!” protes Aida sebelum yang lain sempat menyanggah kata-kata Bara.
“Justru karena itu. Kita harus menyelesaikan semuanya,” jelas Bara. Guntur yang melihat ketidakpuasan Aida memberi isyarat untuk diam dengan menempelkan telunjuknya ke bibir. Aida langsung terdiam.
“Kenapa?” tanya Luci, yang sudah sadar dari shock-nya. “Kok bisa? Lo tau darimana?”
“Waktu itu kakek pernah ngangkat topik ini waktu gue pergi ke Bandung. Dia serius banget. Lo tahu kan kalau dia selalu serius kalau udah menyangkut Aida. Gue tahu ini mungkin bakalan berpengaruh buat kalian yang ada di sini sekarang, jadinya...”
Memang, bagi Luci, Guntur, dan Darius yang juga tinggal di sana, memberikan rumah itu pada orang asing bukanlah ide yang bagus. Aida juga tinggal di sana selama liburan sih, tapi mungkin dia tidak terlalu memikirkannya karena dia tinggal di sekolah asrama dan kebetulan juga dia berencana untuk pindah ke Jakarta bersama Alef. Duh, tiba-tiba dia merasa jadi pemeran serial Full House.
“Kenapa bukan Aida? Seharusnya Aida yang mendapat rumah itu, kan? Nenek waktu itu bilang kan, kalau rumah itu punya Tante Rena. Kenapa rumah itu dikasih ke orang lain? Aida gimana?” tanya Darius. Aida tidak bisa berkata-kata. Mungkin nanti dia akan banyak berterima kasih kepada sepupunya itu.
“Kalau begitu, kakak-adik Zarlene juga berhak,” katanya lembut. “Arvi, putra sulungnya juga bisa mewarisi rumah itu.”
Ella menatap Aida dengan iba yang tulus. Apa-apaan nih? Biasanya juga ketusnya engga ketulungan mentang-mentang tajir. Kenapa sih? Hellow, am I the only one who knows nothing or what?
“Kenapa?” tanya Aida. Dia tidak tahan untuk bertanya. Dia selama ini bukan golddigger dan dia tahu itu. Tapi tetap saja rasanya ia tak rela melepas satu-satunya peningggalan ibunya untuk orang yang belum pernah ia temui. “Keluarga Zarlene... Siapa mereka?”
“Saudara tirimu. Nama keluarga Tante Rena sebelum menikah dengan ayahmu,” kata Bara. Tante Rena adalah panggilan untuk ibu Aida.
JLEGAAAR!!!!! (kenapa tiba-tiba ada petir?)
Rasa-rasanya ada yang engga beres. “Mereka ini... kakakku?!”
Hampir semua mengangguk. Rupanya mereka tahu hal ini dari lama. Luci berkata, “Sort of.
Rasanya gelap. Gelap. Mungkin Aida sebentar lagi akan pingsan. Ibu pernah menikah sebelum bertemu ayah? Aida langsung mengurungkan niatnya untuk meneguk kopi yang terhidang di atas meja, takut keselek. Dia jadi ingat kelebatan citra-citra yang menghantui mimpinya. Suara melengking dari kamar itu... Mungkinkah itu suara ibu yang bertengkar dengan ayah?
“Myra!” suara Rio menyadarkan Aida.
“Ah, iya. Gue ngelamun,” elak Aida. Dari tatapannya, Aida sadar kalau Rio tampaknya mengkhawaitirkannya yang semalaman tidak tidur menunggui Alef, “Aku engga kenapa-napa kok, Ri. Aku tidak keberatan kok, kalau Kakek memang ingin sekali memberikan itu pada mereka.” Guntur dan Ella yang sedang meneguk air mineral sampai nyaris tersedak. Kocag juga... “Hanya saja, kurasa kita perlu mendengar alasan kenapa kakek tidak mempedulikan cucu-cucu kakek yang lainnya yang tinggal di sana.”
“Kan dia bukan... Yah, keluarga kita,” desis Luci dengan suara pelan. “Kakek tahu!”
“Gue aja nggak pernah ketemu!”
“Kenapa hal ini baru kakek omongin sekarang?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus meluncur dari mereka, sampai-sampai Aida jadi bingung sendiri siapa yang lagi bicara atau apa yang mereka proteskan.
Wait! Kenapa lo marah ke gue? Gue cuma ngasih tahu doang. Seharusnya gue cuma ngasih tahu ke Aida doang dan bersyukurlah gue udah mau bagi-bagi cerita. Terutama Ella, Elle, ama Rio! Gue manggil elo bertiga ke sini cuma karena yang ada di Jakarta elo bertiga aja,” kata Bara. Yang lain terdiam. Ella yang dari tadi nyerocos juga sepertinya terlihat malu.
“Nah, gue juga waktu itu protes ke kakek. Sama persis kayak kalian. Tapi tahu engga? Dia malah dengan santainya bilang kalau asalkan Arvi, cowok yang bakalan dijadiin pewaris itu masuk dan diakui sebagai keluarga kita semua bukan masalah,” kata Bara sementara mereka asyik menghirup camomile tea yang barusan disuguhkan Luci.
“Maksudnya?” tanya Aida.
Bara memandang Aida dengan tak tega. Dia lalu menghela nafas panjang. “Duh, susah ya punya sepupu lemot. Ngerti dikit dong. Hello, seharusnya Copa Shallow itu punya Myra. Dan kakek bilang semua engga masalah kalau Arvi jadi keluarga kita. Ngerti sekarang?”
Rasanya ada air bah lewat...
Jadi... Gue dijodohin?! Masa sih? Iiiieeeeeeee... Tunggu! Maksud gue, ini kan bukan cerita sinetron dan sekejam-kejamnya kakek gue, engga mungkin kan sekejam ini? Ngejodohin gue sama saudara tiri gue sendiri supaya kita engga rebutan harta warisan? Nonsense!
Aida memegangi kepalanya sendiri dengan frustasi. Nyaris semua orang yang hadir di ruangan itu bergidik ngeri kecuali (lagi-lagi) dua sepupu coldhearted-nya, Guntur dan Rio yang emang engga dengerin dari awal. Mereka lebih memilih untuk minum teh daripada repot-repot ngomongin masalah yang bikin stres.
“Sebenernya tentang Myra dan Arvi ini bukan jadi masalah besar. Aku sih setuju-setuju aja. Tapi kita punya masalah,” kata Bara, memecahkan keheningan yang tegang. “Aida kan udah punya tunangan.”
“Oh, yeah. WHAT?”
Sinting. Apa-apaan ini. Apa katanya? Fiancé? Sejak kapan? Apa-apaan? Kenapa? Bagaimana? Dan yang paling penting, siapaaaa? Dia kan udah punya pacar! Dan sekarang, kenapa engga ada satupun yang kaget kecuali Aida sendiri? They knew? They knew this all along? How could they?
Tampaknya Aida tidak sendirian, soalnya kelihatannya Darius dan Elle juga tidak tahu apapun.
Who is he?” tanya Darius, penasaran. “Yang waktu itu diomongin kalian di Copa Shallow pas tahun baruan, ya? Siapa sih? Gue kira becanda.”
“Hah? Masa elo engga tahu, sih?” ceplos Ella.
Aida merasa seperti dipermainkan mereka saja. “Gue engga tahu! Kenapa hal sepenting ini ngga ada yang mau ngasih tahu gue sih?”
Kali ini giliran mereka yang kaget. “Ai, lo beneran engga tahu apa-apa? Gue kira lo udah tahu,” kata Bara, agak menyesal karena memberitahu Aida di saat begini. Mungkin Alef dan kakek juga tidak memberitahu Aida karena alasan tertentu, dan sekarang mereka malah membuka rahasia ini.
Nein! Gue engga tahu. Siapa dia? Gue kenal?”
Luci tertawa. “Udah bukan kenal lagi.”
“Siapa?”
Luci dan Ella beramai-ramai menunjuk seseorang yang duduk di sofa merah di ujung ruangan yang diduduki Guntur dan Rio. “Me?” tanya Guntur dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Not you, you moron. You’re too old,” celetuk Ella, membuat mereka semua tertawa.
Aida lalu berkata dengan agak syok. “Kalau bukan Guntur, berarti—“
Rio terbatuk-batuk begitu hebat sampai tetesan tehnya tumpah ke baju. “Me?” Ella melemparkan pandangan who-else padanya, membuat baik Aida maupun Rio kelihatan makin syok.
Rio? This is... INSANE!

Siang yang sama, sebuah café kecil di pinggir jalan...

“Nih,” kata Aida sambil mengulurkan secangkir hot chocolate pada cowok yang tadi. Mereka sekarang ini sudah tak lagi ditunjuk-tunjuk orang-orang lewat lagi (habisnya mau gimana lagi? Tatapan Aida ke mereka nyeremin sih. Tajam banget, pisau aja kalah). Tanpa mengucapkan terima kasih, dia mengambil cangkir itu dari tangan Aida dan memasukkan gula rendah kalori ke dalamnya.
“Lagi diet?” tanya Aida yang membuat cowok itu menatapnya lurus. “Kok gulanya yang begituan?”
Lagi-lagi dia melemparkan tatapan itu-bukan-urusanmu pada Aida. Tapi akhirnya dia berkata dengan ketus, “Masalah pekerjaan.”
“Lho, memangnya kerja kamu apa?” tanya Aida dengan wajah polos. Dia memang ingin membuat cowok itu kesal. Soalnya dia tidak mau menerima permintaan maaf Aida, sih! Lagipula sekarang ini dia harus keluar duit tabungan buat ngeganti PDA-phone cowok tadi yang kelindes container dan mentraktirnya minum. Sekalian dikerjain engga salah kan?
Cowok itu menaruh sendoknya dan memelototi Aida galak dari balik pelupuk matanya, “Nothing much.”
Aida cuma mengangkat bahu tak peduli. Rasa-rasanya kok dia pernah melihat cowok ini di mana ya... Mungkin salah satu teman Luci atau Darius yang sering main ke rumah. Soalnya tampangnya masih seperti anak SMA. Tapi... dia bilang dia sudah kerja. Mungkin dia kerja sambil sekolah.
“Ouch,” seru cowok itu sambil meringis kesakitan saat bibirnya yang membiru menyentuh tepi cangkir. Hot chocolate-nya tumpah ke mana-mana dan membuat tampang orang itu jadi tidak sok cool lagi. Tiba-tiba Aida jadi merasa iba.
I’m really sorry, ok?” dia lalu mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap jari-jari cowok itu yang kena tumpahan hot chocolate yang masih panas itu.
Lagi-lagi dia menatap Aida dengan pandangan yang sulit ditafsirkan. Dia lalu berkata dengan nada yang penuh curiga, “Elo bener-bener bukan lagi... caper, kan?”
Hah? Ini cowok minta ditonjok di pipi yang satunya ya? “Ya enggalah! Siapa juga yang mau. Gue udah punya someone. Gue kasihan ama elo, pagi-pagi begini udah ketimpa sial yang gara-gara gue. Kalo engga, ngapain gue mau ngotorin sapu tangan kesayangan gue cuma buat stranger yang kerjaannya ngomel-ngomel dengan tatapan super galak begitu?”
Dia tidak membalas perkataan Aida. Beberapa orang di café menatap mereka sambil berbisik-bisik gosip. Cowok itu memalingkan pandangannya dari Aida. Aida tidak dapat melihat matanya, tapi telinganya memerah. Dia lalu ngoceh sendiri tentang dirinya sendiri, “Sori aja, tadi gue kira lo cuma salah satu dari—“
Aida tidak lagi memperhatikan kata-kata cowok itu. Sebuah bus besar di jalan di hadapan mereka yang menutupi jalannya sinar matahari baru saja lewat dan menampilkan sesuatu yang benar-benar bikin Aida asli syok setengah idup.
Poster ini cowok segede-gede kampret nempel di billboard raksasa di ujung jalan. Gilaa... Baru kali ini Aida ngeliat foto muka orang yang dia kenal segede gitu. Bukannya gimana-gimana ya... Jadi si rese ini ngira Aida cuma salah satu penggemar fanatik bodoh yang nyari perhatian?
“Lo... model ya?” tanya Aida dengan setengah tercekat, masih tak bisa melepas keterkejutannya. Dia masih melihat billboard itu dengan mulut menganga. Cowok itu dengan bingung melihat Aida yang kelihatannya abis ketemu setan dan menengok ke arah yang dipandang Aida.
“Gue malah kaget elo engga tahu,” kata cowok itu anteng.
“Hah?” Amit-amiiit... Ini orang pede banget! Dia pikir semua orang kenal dia ya? Pantesan dia marah banget waktu Aida nonjok dia. Jadi Aida sudah merusak aset terbesarnya, wajahnya! “Sori aja ya. Gue setahun ini tinggal di sekolah asrama dan mumpung sekarang ini liburan, gue baru dateng ke sini. So, maklum aja gue engga kenal model kelas kacangan kayak elo.”
Aida kesaaal banget ama tipe-tipe orang begini. Membuatnya ingat sama Kai, sepupu Aida yang tinggal di Copa Shallow bersama kakeknya. Super narsis!
“Oh, dari kampung ya?” tanya cowok itu yang malah mengobarkan perang. Emang sih, tadi kata-kata Aida udah keterlaluan, tapi dia kan engga perlu menyiramkan minyak ke api. Iya, kan? (dasar orang yang nggak mau kalah...)
“Bandung,” desis Aida tak sabar. “Kalo lo udah selesei ngehina gue, gue permisi dulu soalnya gue ada janji.” Apaan sih? Hellow, Aida? Elo kan yang duluan nge-underestimate dia! Kenapa elo yang marah?
Aida menyambar tas tangannya. Cowok itu menangkap lengan Aida sebelum dia sempat pergi.
Wait. Your name!”
“Ha?” Rasa-rasanya Aida sudah mengatakan hal yang paling bodoh dalam hidupnya.
I don’t know your name,” katanya.
Aida melepaskan diri dari cengkaramannya. Dia membuka tasnya dan menuliskan sesuatu pada selembar cek yang lalu diletakkannya di atas meja. “Then you don’t have to. Ini, sori udah ngerusak hape lo.”
Aida lalu melangkah pergi dari tempat itu. Dasar odong, di cek itu kan ada namanya sendiri. Cowok artis itu lalu terkaget-kaget sendiri melihat nama orang yang ditemuinya barusan. “Nadishiella... Cardier?!”

Tuesday, October 17, 2006

Part two!
A Faithful Meeting

Di dalam metro mini...

Padahal pagi ini begitu dingin untuk bepergian, tapi tetap saja Darius, sepupunya, memaksa Aida untuk pulang ke apartemennya. Katanya ada sesuatu yang penting banget yang mau diomongin. Padahal dia masih ingin menunggui Alef di rumah sakit. Memang, dia seharusnya bersyukur ternyata Alef selamat dari kecelakaan naas itu, tapi keadaannya benar-benar kritis. Rasanya Aida ingin sekali membuang telepon selularnya ke luar jendela metro mini itu setiap kali dering telepon dari Darius berbunyi. Pasti bentar-bentar nanyain “Udah nyampe belum?” atau “Sekarang udah sampai di mana?”
Mentang-mentang handphone cowok itu sudah ganti jadi CDMA yang pulsanya murah, sebentar-sebentar pasti nelpon.

Kriing… Krinng…
Tuh kan… bunyi lagi, pikir Aida. Beberapa orang siswi SMP yang berdiri di sampingnya tersenyum sambil berbisik-bisik. Salah satunya menunjuk Aida dan yang lainnya cekikikan. Dasar… anak jaman sekarang… (emangnya dia anak jaman kapan? ^^;)
“Apaan?” sergah Aida sebal tak tanggung-tanggung.
“Woi, galak amat, Mbak. Ini gue, Lea. Kapan lo pulangnya sih? Gue lagi di Soekarno-Hatta. Di sini hujannya engga berhenti-berhenti jadi pesawat gue di-delay. Elo sih udah kering kerontang ya? Eh, si Alef gimana?” cerocos sepupu jauh Aida, Cattleya, yang biasa dipanggil Lea. Hari ini Aida sudah janji akann mengantarkan Lea yang ada tugas ke luar negeri ke airport. Tapi tampaknya dia tidak bisa memenuhi janjinya pada Lea, berhubung dia masih harus menemani Alef.
“Oh elo…” kata Aida lega. “Gue kira si Darius. Dari tadi dia nelpon mulu sih... Tadi si Alef masih di ICU. Kayaknya sih parah. Gue masih di jalan. Mungkin pesawat lo udah keburu berangkat sebelum gue nyampe sana. Sori ya gue ngga bisa nganterin.”
“Yah, kok gitu…” kata Lea agak kecewa.
Aida menghela nafas. “Ya abisnya mau gimana lagi?” Kadang-kadang ia tak tahu harus bersikap apa kepada Lea. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Alef yang sama sekali tidak punya hubungan darah dengan keluarga mereka.
“Ya gapapa de, paling besok atau lusa kita ketemu ini. Tapi gue rugi ongkos pulsa nih nelpon elo. Mending tadi gue sms.”
“Alaahh… Paling cuma seceng nelpon semenit, pake acara ngeluh segala. Ngomong-ngomong, emang lo udah balik ke Jakarta besok atau lusa?”
“Kan emang gue di sana cuma buat seha—“

Kyaaaa….
Orang-orang yang duduk di kanan-kiri dan sekitar Aida terlonjak kaget. Padahal cowok bertopi kupluk yang lagi sandaran di bangku samping Aida itu pakai earphone loh. Tapi dia juga ampe kaget dengar teriakan cewek itu.
“Gokil, apaan tuh?” kata Aida. Dia yakin ada suara seorang wanita yang berteriak dari teleponnya. Itu bukan suara Lea, jadi pasti suara orang yang ada di dekatnya atau emang itu cewek dulunya pernah keselek toa masjid.
Pas sekali saat itu bus-nya berhenti.
Semuanya terjadi begitu cepat, dia bahkan tidak begitu ingat apa yang terjadi. Seingatnya, dia ditabrak seseorang hingga handphone-nya jatuh ke lantai. Saat itu datang seseorang berjaket biru tua, berkaus hitam, dan bercelana jins menyambar handphone-nya.
Siswi-siswi SMP yang tadi menertawakan Aida ikut menjerit karena cowok itu juga menjambret handphone teman mereka dan lari ke kerumunan penumpang yang baru turun dan naik dan membaur dengan mereka.
Secara refleks, Aida berlari dan mengejarnya. Dari belakang, Aida melihat seorang pemuda bersosok yang sama. Jaketnya berwarna sama dan Begitupun dengan jinsnya. Dia asyik tertawa sambil menelepon lewat sebuah telepon genggam. Mungkin itu milik anak SMP tadi, pikir Aida. Aida lalu memutar balik mengambil jalan lain dan langsung mendorong laki-laki tadi hingga jatuh dan handphone-nya terlepas.
“Sekarang kita impas kan? Kembaliin hape gue!”
Buag!!
Aida baru saja menonjok cowok itu kencang-kencang. Padahal di gang itu sedang banyak orang lewat dan mereka semua malah berhenti berjalan dan memperhatikan (biasalah orang-orang di sini, bukannya melerai malah dianggap tontonan gratis). Tapi Aida tidak peduli.
“Minggir!” cowok itu mendorong Aida dari tubuhnya dan menariknya pergi ke belakang mesin penjual soda agar tidak ada yang memperhatikan. Dia menghapus darah di pinggir bibirnya dengan punggung tangan dengan agak meringis. “What is wrong with you, woman? Geez.”
Dia melempari Aida hingga menubruk mesin itu dan menghardiknya dengan sejumlah pertanyaan. “Lo ini rada ya? Mana ada orang yang seenaknya nonjok orang sembarangan di tengah jalan.”
“Hape gue mana? Elo yang tadi nyolong di bus kan?”
“Apa? Ngaco lo. Mana mungkin. Gue aja baru dateng ngga sampe seperempat jam yang lalu dari rumah. Dan gue barusan keluar dari mobil gue sendiri, bukan metro mini! Kalo engga percaya tanya tuh satpam!” seru cowok itu jengkel.
Iya, ya. Mana ada maling yang ngaku. Jaman sekarang sih maling teriak maling. “Jangan boong deh,” hardik Aida. “Gue inget kok lo pake jaket biru, celana jins ama kaos—“
Aida terpana.
“Kaos apaan?” bentak cowok berkaus putih itu.
“Eh, kaos i… item.”
“Ya udah, lo ngapain nonjok gue tadi?
Aida merasa pipinya memerah. Dia belum pernah semalu ini dalam hidupnya. “Maaf, Mas. Salah orang.”
“Maaf, maaf. Harusnya lo bilang makasih gue engga lapor ke polisi. Dasar cewek sinting. Makanya, elo tuh mesti periksa ke dokter mata!” bentak si cowok itu lagi. Aida merasa agak kesal karena cowok ini terus marah-marah meskipun Aida terus-terusan minta maaf. Akhirnya Aida diam saja mendengarkan ocehan cowok ini.
Dammit! Handphone gue!” seru cowok itu mengagetkan Aida. Ternyata handphonenya jatuh ke jalan dan disambar ban-ban raksasa kontainer daging yang berusan lewat, “Shoot. Baru gue isi pulsa!”
Cowok itu memegangi kepalanya dan berjalan ke sana kemari dengan sedikit linglung. Persis Alef waktu stres. Mungkin kalau dia perempuan, sudah menangis menjerit-jerit. Yah, setidaknya itulah yang akan dilakukan Aida.
“Maaf ya,” bisik Aida takut kalau-kalau dia akan marah lagi. “Saya ganti deh, Mas.”
Ganti? Oh, great, Aida. Lo pikir lo mau bayar pake apaan? Uang pengobatan Alef aja mungkin nunggak.
“Baguslah kalo lo nyadar,” kata cowok itu dingin dengan tatapan tegas. Sat dia membalikkan badan, Aida merasa sangat bersalah. Secara dia udah mukul itu cowok tanpa alasan, merusakkan handphone-nya, dan sekarang bagian belakang bajunya kotor karena jatuh ke bagian trotoar yang digenangi hujan bekas semalam.

Jam setengah sebelas malam...
Alef belum pulang.
Aida merapatkan selimut di tubuhnya. Hujan yang terus-menerus mengguyur kota membuat udara yang biasanya panas gila jadi dingin banget. Ia melirik Rio yang dengan nyenyaknya tidur mendengkur di atas kasurnya. Mungkin dia emang kecapekan, tapi kenapa mesti tidur di sini, coba? Cuma gara-gara dia males ke kamar Alef yang bau rokoknya ujubile, jadi seenak jidatnya ini cowok ngedeprok di tempat tidur orang.
Damn, Alef. You won’t get out of this, geram Aida. Udah dibilangin jangan ngerokok di dalem kamar, masih ngeyel. Abu di karpetnya tuh kalo disedot berapa kalipun juga tetep aja bau! Masa mereka mesti ngeluarin duit ekstra buat beli sekarung Glade tiap bulan, sih? And sekarang Aida mesti tidur di sofa secara kasurnya dipake Rio yang engga bisa pulang karena kompleks rumahnya banjir.
Aida tidak bisa tidur dalam keadaan seperti ini. Feelingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Lagu Can’t Fight The Moonlight yang dilantunkan radio tidak bisa menenangkan pikirannya. Dia lalu menyalakan tv yang membuat Rio terbangun karena suara gaduhnya. Gimana engga? Lagi hujan, nyalain tv, nyalain radio pula!
“Udahlah. Gokil aja, sekarang udah jam dua! Gue capek banget nih. Lagian besok elo mesti pergi ke airport. Gue juga mesti kuliah. Bla, bla, bla,” Rio berkhotbah panjang lebar tentang waktu tidur yang efektif untuk anak-anak.
Dasar cerewet.
“Eh, kenapa?” tanya Aida saat Rio tiba-tiba berhenti bicara. Dia seperti orang yang sedang melihat setan. Wajahnya jadi putih dan dan aneh. Aida melihat ke arah yang dipandang Rio, ke arah tv. Tidak ada yang istimewa. Cuma memberitakan kecelakaan tadi siang saja.
“Kenapa sih lo?” tanya Aida yang sudah agak cemas.
Rio membuka mulutnya untuk bicara, tapi dia menutupnya lagi. Seolah ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. “SUV hitam Alef itu... yang itu bukan?” Rio menunjuk layar tv.
Aida langsung keringat dingin. Masa sih? Get a life. SUV ringsek yang waktu itu mereka lewati? Aida tidak berani melihat layar kaca, takut kenyataan yang ditakutinya menjadi kenyataan.
“...OZ—”
“Tadi kamu ngomong sesuatu?” tanya Rio seraya menyentuh tangan Aida yang gemetaran.
Aida menepis tangan Rio dan berseru panik, “B 12126 OZ! Plat nomor Alef. Kumohon, itu bukan dia,” katanya dengan suara tercekat.
Aida melihat ekspresi Rio yang bukannya lega seperti yang diharapkannya, malah tampak menyesal dan tertekan. Tidak... Ya Tuhan, jangan ambil Alef dariku...
Don’t tell me—“ Aida menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Rio melingkarkan tangannya di punggung Aida dan memeluknya. “I’m really sorry, Aida.”
Aida meremas sweater Rio. Ia teringat pada Alef yang selalu ada bersamanya setiap hari. Ia ingat waktu ia tidak lulus audisi, Alef pernah memeluknya seperti ini. Lengannya yang besar dan hangat tidak akan ada lagi. Is this... for real?
Saat itu juga, Aida menangis sejadi-jadinya.

Monday, October 16, 2006

Part oNe!
The Crash
Sebulan sebelumnya, sebuah jalan yang maceeet total.

Kecelakaan singkat antara motor dengan mobil di jalan yang mereka lalui telah membuat kemacetan parah sepanjang satu kilometer. Hujan yang mengguyur Jakarta siang itu memperparah kemacetan jalan. Sudah begitu, pembangunan Busway malah bikin mobil-mobil tambah numpuk. Rio mengeluh sepanjang jalan pada Aida dengan diikuti omelan-omelan ngawur mengenai pekerjaan sampingan Aida yang mengharuskan ia mengantar-jemput cewek itu setiap minggu. Aida yang tampaknya tidak terpengaruh dengan mood Rio, malah mengerjainya dengan rentetan pertanyaan.
“H2SO4 termasuk senyawa berikatan apa?” tanya Aida serius.
“Kovalen koordinasi,” jawab Rio malas-malasan.
“Kalau Pbl2?” tanya Aida lagi.
Alef bangun dari sandarannya dan merebut buku kimia itu dari tangan Aida dan melemparkannya ke jok belakang.
“Hei!” protes Aida. Rio malah pura-pura budeg dan mengeraskan suara radio. Padahal Rio paling engga suka dengar siaran radio. Terutama stasiun radio yang sekarang ini lagi diputarnya kencang-kencang.
Zip it, Myra. Lo bikin gue stres aja sih. Yang ujian kan elo, bukan gue. Kenapa gue yang ditanya-tanyain? Lagian gue udah lupa. Terakhir gue belajar kimia aja pas SMA,” kata Rio seraya mengangkat alis.
Aida dengan susah payah meraih buku kimianya dan membersihkan debu dari sampulnya. “Gaya, lo. Baru tiga bulan lo kuliah, udah sok jadi anak kuliahan gitu. Biarin aja, biar lo stres sendiri. Lagian gara-gara elo juga gue ampe lumutan di mall itu ampe keujanan segala. Lama amat sih,” kata Aida seraya menjulurkan lidahnya.
“Eh, ni anak pake acara melet-melet segala lagi. Masih untung gue mau jemput. Jelek tau,” ejeknya sambil menempelkan telunjuknya ke jidat Aida.
“Biar! Biar! Week,” kata Aida tambah menjadi-jadi.
Rio lalu menghela nafas panjang. “Dasar. Alef bakalan ngamuk, tau engga, kalau melihat kamu kayak Sandra Bullock kecebur empang gini. Kalo sampai elo kenapa-napa, i’m soo dead.”
Masih sempet-sempetnya ngatain orang...
“Lagian kenapa mesti Sandra Bullock sih?”
“Soalnya gue baru aja nonton Miss Congeniality-nya di rumah Hasya,” jawab Rio diselingi siulan ceria yang ringan. Hasya adalah salah satu rekan kerjanya yang juga mantan pacar Alef.
“Oh ya. WHAT?”
Rio tampak asyik tersenyum sendiri.
Dasar anak edan.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Rio, “balik ke masalah. Kalau Alef nanyain kenapa kamu bisa sampai kehujanan gitu aku harus bilang apa, Sweetie? Lagian kenapa bisa sampai kehujanan sih? Kan mall itu jelas-jelas engga mungkin atapnya kebocoran.”
Entah perkataan itu setengah mengejak atau tidak. “Aku yang akan menjawab Alef. Kamu tenang saja,” jawab Aida agak sedikit dingin. Mana bisa ia membuka rahasianya pada Rio kalau tempat kerjanya sebenarnya bukan di situ. As if.
As you wish,” jawabnya ringan.

Prologue

Jakarta, hari hujan.
“Bawa payung?” tanya cowok itu sambil mengulurkan tangannya ke luar, membiarkan tangannya dibasahi rintik-rintik hujan yang kian lama kian deras.
Aida tertegun melihat kelakuan cowok itu. Mungkin dia ini orang yang sekedar lewat atau salah satu anggota fans club-nya, tapi dia membuat kesan seperti ingin mendekati Aida yang membuatnya heran sekaligus ilfil. Air hujan menetes-netes dari pakaian dan rambut Aida hingga lantai teras itu basah sementara dia terus menatap cowok yang sedang mendesah dengan hujan itu dengan bingung. Cowok itu lalu memalingkan kepalanya dari hujan dan memandang Aida yang sedang kebingungan.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya sedikit ge-er. Dia tersenyum seolah-olah dia menganggap dirinya terlihat keren. Akhirnya, Aida tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Pertama-tama cowok itu membalas senyuman Aida juga, mengira kalau Aida memang ingin tersenyum padanya. Senyumnya langsung hilang dari wajahnya waktu Aida tertawa. Entah apa yang dipikirkan cowok itu waktu Aida tertawa freely seperti itu.
“Kenapa tertawa?” tanya cowok itu dengan senyum ‘aku-tak-tahu-apa-maksudmu’ yang mempelihatkan sebagian giginya yang putih dan rata. Aida jadi semakin ingin tertawa.
“Tanganmu,” kata Aida sambil menunjuk lengan sweater kiri bagian bawah cowok itu yang sudah benar-benar basah di bawah siraman hujan deras itu.
Sungguh bodoh.
“Oh, ini. Shoot,” bisik cowok itu dengan wajah yang tampaknya sedang malu. Dia menggulung lengan sweater-nya itu. Aida samar-samar melihat ada sebuah tato kecil di pergelangan tangan bagian dalam cowok itu.
“Terlalu sibuk pdkt sampai salah tingkah nih,” kata si cowok sambil menggaruk-garuk kepala. Kelakuannya membuat Aida mesti menahan senyum lagi.
“Sini, kubantu,” kata Aida. Dia lalu meraih lengan sebelah kanan cowok itu.
“Eh, apa?” wajah cowok itu memerah. Mungkin dia memang sedikit manis.
“Kalau kau berjalan di tengah bangak orang dengan lengan sebelah panjang dan sebelah lagi pendek, aku takkan mau pergi bersamamu,” ucap Aida seraya menggulung lengan kanan sweater itu.
“Apa maksudmu?” tanya si cowok yang kelihatannya senang akan perkataan Aida. Aida jadi ingin tersenyum.
“Tentu saja kau akan mentraktirku minum kopi kan, stranger? Kau sudah mengusik hariku dengan tingkahmu itu,” kata Aida setengah tertawa.
Kali ini giliran cowok itu yang tertawa meremehkan. “Kopi? Huh, aku ragu apa kau berani masuk ke dalam situ dengan keadaan basah kuyup seperti itu,” dia menunjuk gerai Starbucks persis di belakang mereka.
“Tentu saja tidak,” kata Aida tegas sambil memandang cowok itu lurus ke matanya, membuat cowok itu sedikit terkejut karena wibawanya. “Kau yang akan membelikanku kopi dan membawanya ke sini.”
Cowok itu terlihat aneh. “Me? Kenapa harus aku?”
“Ya tentu saja,” kata Aida sambil menempelkan telunjuknya ke dahi cowok jangkung itu, “sebagai balasan karena dari tadi siang kau mengikutiku tanpa izin. Apa kau pikir aku takkan menyadarinya?”
Dia tertegun. “Kenapa bisa tahu?”
Aida tersenyum lebar. “Karena sejauh ini, belum ada yang menegurku dengan cara seperti itu. Menanyakan apa aku bawa payung atau tidak padahal jelas-jelas aku basah kuyup kehujanan. Lalu sengaja mengikutiku dengan mobil sport mewah yang mencolok mata padahal mobil semacam itu masih jarang di Jakarta. Dan yang lebih parah, jaman sekarang mana ada orang bodoh sebayaku di kota metropolitan begini yang bicara dengan bahasa baku!”
Mereka terdiam sesaat.
Cowok itu lalu tertawa sambil menempelkan telapak tangannya ke wajah, menyadari kecerobohannya yang fatal. Aida lalu ikut tertawa bersamanya, membuat beberapa orang yang ikut berteduh di bawah atap mall tersebut menonton mereka.
“Jadi, bagaimana dengan banana frappucino-ku?” tanya Aida.
Cowok itu tersenyum lebar, “Dengan senang hati.”

Sunday, October 15, 2006

"i am just a mere human in this gigantic world. i cannot stand still without those arms which always pushed me through this heavy rain. why should i have this burden? this rain... won't stop."

Mieczyslaw Horszowski - Chopin: Nocturne in E flat, Op. 9, No. 2

Music Code provided by Song2Play.Com